4.6( 8864)

Inspiratif: Dulu seorang tukang pijat sekarang pegawai negeri

Tahun 1999 ketika saya masih SMK Pariwisata di Bandung, saya mempunyai seorang teman namanya Asep, dan saya lupa kepanjangannya tapi dalam kesehariannya dia suka mengganti namanya sendiri, dari Asep dia mengganti nama panggilanya Yanasib, entah pemikiran dari mana dia menamakan dirinya seperti itu, atau mungkin karena nasibnya sekolah rantau dengan mengandalkan hasil menjadi pembantu rumah tangga sekaligus pengasuh anak, dia berfikiran nasibnya kurang beruntung.

Asep ini orang Sumedang Asli, saat saya berkunjung kerumah dia di Sumedang teryata tetangganyapun memanggilanya Dulasep, yaitu gabungan nama dari "Asep kedul" ( Kedul = pemalas ) badan teman saya ini pendek tapi agak tambun, prestasi di sekolah jauh dari kata bagus, entah karena memang dia pemalas ataupun memang daya dan kemampuan belajar dia terbatas.

Walapun prestasi temanku ini kurang bagus tapi dia mempunyai kemampuan memijat, aku suka menggunakan jasanya dipijat tarifnya satu jam RP 5.000, jujur saja pijatannya lumayan lah awal dipijat memang tidak sengaja, dia suka tiba-tiba memijat punggung atau pundak teman kami, mungkin promosi. dari kebiasaan dia itu akhirnya ya jadi ketagihan.

Sisi akademis memang dia kurang tapi soal mengaji dia dibilang cukup bagus sayapun sesekali suka minta bimbingan kepada dia, owh ya selain nama Yanasib dia ke sekolah suka memaki peci hitam khas Presiden Soekarno, nah saking lugunya dia ingin dipanggil ustad karena peci itu, mungkin urusan mental teman saya ini paling ok dia selalu PD dan tenang, dan seingat saya dialah orang tanpa masalah, ada uang tidak ada uang wajahnya selalu santai-santai saja dan tidak pernah mendengar dia mengeluh. Urusan kejujuran jangan ditanya selama saya kenal tidak pernah bohong, kalaupun memang ada berita yang tidak benar karena saking lugunya dia bercerita apa adanya, sisi unik dia juga pahlawan satu, dua kali dia pernah dihukum guru atas kesalahan teman yang lain.

Mungkin ada yang bertanya waktu dia kan sedikit kapan dia punya waktu memijat sedangkan dia bekerja juga sebagai pembantu rumah tangga? kebetulan tempat dia bekerja dan berteduh ini termasuk salah satu keluarganya jadi urusan waktu mungkin tidak begitu ketat, dia mempunya waktu lepas  jam 6 sore sampai jam 9 malam, jadi urusan pijat memijat bisa dilakukan malam hari.

Tahun 2001 kami tamat sekolah, saya melanjutkan studi saya ke salah satu perguruan tinggi di bandung, dan teman saya ini diangkat jadi staf Tata Usaha di sekolah ini, ko bisa di angkat staf TU? ya kebetulan satu tahun terakhir dia di ambil sama kepala sekolah untuk bantu-bantu di rumahnya, ya lumayan hitung-hitung gratis biaya sekolah,  kurang lebih 2 tahun jadi staf TU akhirnya dia memutuskan untuk keluar, dia lebih memilih ajakan bibinya kalau tidak salah, untuk ikut kerja di Jakarta di sebuah catering.

Asep yang dikampungnya pemalas mungkin seakan ingin membuktikan kepada orang-orang dikampungya bawa dia bukan pemalas, tapi dia memang tidak cocok dengan pekerjaan di kampung, tempat dia bekerja melayani catering ibu-ibu dinas, saya lupa dinas apa? ya menurut kabar tetap saja dia sambil pijat memijat ya sambil pijat memijat mungkin sambil bercerita akhirnya ada kesempatan juga bekerja di dinas perikanan.

saya kurang tahu jabatnaya tapi kabar terakhir dia sekarang sudah membeli rumah di jakarta, dan mampu membeli rumah juga di kampung istrinya di Jawa, walapun memang hidup dia sekarang termasuk serba cukup saya suka bertanya-tanya apakah dia masih menggunakan jasanya sebagai tukang pijat, atau berhenti?

0 comments:

Posting Komentar