4.6( 8864)

Maemunah Manusia Tertua di Indonesia

Terlambat.info - Apakah kamu pernah membayangkan ada manusia di Indonesia yang berumur hingga 145 tahun? Mungkin bagi kamu mustahil, jika anda di Indonesia manusia yang berumur hingga mencapai 145 tahun, tapi tidak dengan anak dan cucu Nenek Maemunah warga Cimanuk, Pandeglang, Banten. Dia telah meninggal dunia tahun lalu pada usia 145 tahun.


Sudah beruban namun memiliki daya ingat yang kuat dan bahkan dalam berjalan pun masih tegap, itulah beberapa kenangan dari keluarga Nenek Maemunah sebelum akhirnya dia meninggal. Almarhumah Nenek Maemunah membuat para Dokter dan petugas Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyensusnya tiga tahun lalu tercengang, bagaimana tidak tercengang? Ternyata masih ada di Indonesia manusia setua itu.

Walaupun sudah berumur 145 tahun, namun dari penampilannya layaknya Nenek-nenek yang masih berumur 80 tahun. Fisiknya masih cukup kuat dan tidak bungkuk seperti halnya beberapa orang yang sudah sepuh. Kesehatannya pun masih terjaga dengan baik hingga dia meninggal pada 9 Mei 2012. Maemunah meninggal tiga hari setelah berulang tahun ke-145 pada 6 Mei 2012.

Almarhumah Nenek Maemunah tercatat sebagai warga di Dispendukcapil Kabupaten Pandeglang kelahiran 6 Mei 1867. Tanggal lahir itu tercantum di KTP yang diterbitkan pada 2007. Dari segi administrasi, dialah manusia tertua di Indonesia yang masih hidup hingga Mei 2012. 

Ketika sensus penduduk 2010 usia Nenek Maemunah kemudian diverifikasi oleh BPS Pandeglang. Pihak BPS meminta bantuan beberapa Dokter untuk memverifikasi usia Nenek Maemunah. Hasilnya, mereka meyakini bahwa usia sang nenek memang benar 143 tahun kala itu.

Bukti lain bahwa Nenek Maemunah berumur panjang adalah ingatannya yang masih kuat seputar peristiwa letusan Gunung Krakatau pada 1883. "Saat itu nenek berusia 16 atau 17 tahun," terang Enung Nuraini, cucu Nenek Maemunah dari anak terakhir. 

Nenek Maemunah pernah bercerita bahwa Krakatau meletus selepas isya atau sekitar pukul 20.00. Kala itu Nenek Maemunah yang sedang bersantai di beranda rumah merasakan gempa yang hebat.

"Gunung di laut ngabeledug (meletus)," begitulah kabar yang didapatkan Nenek Maemunah tidak lama setelah letusan. Sesaat seusai gempa, terjadi hujan abu bercampur pasir yang berlangsung terus-menerus selama seminggu.

Setelah hujan abu dan pasir mereda, giliran hujan es melanda kawasan sekitar kediaman Nenek Maemunah di Kampung Jaha Girang, Desa Kadudodol, Cimanuk. Langit gelap gulita, tidak menyisakan celah untuk matahari bersinar karena tertutup awan hasil letusan dahsyat Krakatau.

Wanita yang memiliki sepuluh anak itu juga masih ingat masa pembangunan rel kereta api di Rangkasbitung pada akhir 1800-an. Sebelum rel tersebut dibangun, dia biasa bepergian ke Jakarta dengan berjalan kaki. Tujuannya adalah kawasan yang kini menjadi Pasar Tanah Abang.

Fenomena lain yang sempat membuat Dokter geleng-geleng kepala adalah fakta seputar kesehatan Nenek Maemunah. Anak bungsunya, Sanawati, lahir pada 1952. Artinya, Maemunah melahirkan saat berusia 85 tahun! 

Meski dianggap mustahil, nyatanya dokter telah membuktikan sendiri bahwa kondisi rahim Nenek Maemunah sangat baik. Dokter juga menyatakan bahwa Nenek Maemunah masih dimungkinkan untuk mengandung lagi setelah melahirkan anak kesepuluh. Namun, takdir berkata lain. Sang suami Sajamin meninggal pada usia 90 tahun.

Enung mengungkapkan, pada 2004 Nenek Maemunah mengalami gangguan pencernaan dan harus dirawat di RSUD Pandeglang. Itu merupakan kali pertama Nenek Maemunah dirawat di RS. Sebelumnya dia tidak pernah mengalami sakit yang membuatnya harus dirawat di luar rumah.   

Beberapa saat seusai pemeriksaan, Dokter memberi tahu Enung bahwa neneknya sangat beruntung bisa hidup lebih dari 100 tahun. Tentu saja Enung heran. "Kami saat itu belum bilang ke pihak rumah sakit bahwa usia nenek lebih dari 100 tahun," ucapnya.

Penasaran, Enung pun bertanya berapa usia Nenek Maemunah menurut sang Dokter. Dokter mengatakan, berdasar sampel darah, diperkirakan usia Maemunah sudah lebih dari 125 tahun. Darahnya pun dinyatakan bersih, tidak terkontaminasi racun sedikit pun.

Karena itu, tidak heran lima anak dan beberapa cucu Nenek Maemunah meninggal terlebih dahulu. Saat ini hanya lima putra Maemunah yang masih hidup. Yakni; Saripin, anak kelima; Agus, anak keenam; Darwati, anak ketujuh; Samarudin, anak kesembilan; dan Sanawati, anak kesepuluh.

Dari putra pertamanya, Sarman, yang meninggal pada 1984 di usia 85 tahun, Nenek Maemunah kini telah memiliki generasi ketujuh. "Kalau ditotal, semua anak dan cucunya mungkin lebih dari 250 orang," lanjut Enung.

Apa yang membuat Nenek Maemunah bisa hidup begitu lama? Kuncinya ada pada pola hidup. Semasa hidup Nenek Maemunah selalu mengonsumsi makanan yang direbus atau dibakar. Kalaupun makan makanan yang digoreng, dia membuat minyaknya sendiri dari kelapa. Itu pun jarang. 

Semua makanannya selalu sehat. Makanan-makanan itu berasal dari kebun atau hutan di sekitar lingkungannya. Meskipun, sebenarnya kondisi tersebut terjadi gara-gara kemiskinan yang dialami Nenek Maemunah sejak kecil akibat kolonialisme Belanda.

Dalam hal bumbu masakan pun, Nenek Maemunah sangat selektif. Dia sama sekali tidak mau makanannya dibubuhi bumbu masak instan, apa pun bentuk dan mereknya. Dia memilih menggunakan bumbu-bumbu alami. Cara memasaknya pun tampak asal-asalan. Namun, setelah hasilnya dicicip, terasa enak. 

Satu hal yang unik pada pola makannya adalah durian. Sejak dulu hingga menjelang kematiannya, Nenek Maemunah sangat gemar menyantap durian. Di usia senja, dia mampu melahap satu durian montong yang besar sendirian. Karena menyantap durian tidak berefek apa pun pada tubuh Nenek Maemunah, akhirnya anak dan cucunya membiarkan Nenek Maemunah sering-sering untuk menikmati buah kegemarannya itu.

Beberapa tahun terakhir Nenek Maemunah juga gemar mengonsumsi permen lolipop. Sekali makan, dia bisa menghabiskan lima permen. Satu pak permen pun dia habiskan dalam dua hari. Dia juga suka minum susu.

Selain makan makanan sehat, Nenek Maemunah selalu menjaga kondisi psikisnya dengan baik. "Nenek tidak pernah berpikiran buruk terhadap siapa pun selama hidupnya. Beliau juga tidak pernah marah," tutur perempuan 35 tahun itu. 

Aktivitas Nenek Maemunah setiap hari diawali bangun sekitar pukul 03.30 untuk salat malam. Dia tidak tidur hingga menjelang subuh. Seusai salat Subuh, dia pergi ke sungai untuk mandi dan mencuci  sebelum ada kamar mandi di kediamannya. Siang dia merawat kebunnya, lalu bersantai di dalam rumah atau beranda.

Nenek Maemunah juga tidur lebih awal. Dia biasa tidur selepas isya. Alhasil, kondisi fisik dan mentalnya selalu terkontrol. Dalam hal spiritual, Nenek Maemunah termasuk orang yang rajin berzikir dan berdoa. Setiap kali hendak melangkahkan kaki ke luar rumah, dia selalu membaca syahadat dan berdoa.

Setiap kali cucu-cucunya berkumpul, dia selalu mendoakan mereka. Satu doa yang sering dipinta Nenek Maemunah kepada Tuhan adalah usia yang panjang agar bisa menyaksikan cucu-cucunya menikah dan berbahagia. 

Tidak banyak firasat menjelang meninggalnya Nenek Maemunah. Hanya, satu bulan sebelum meninggal dia lebih sering berdiam diri di rumah. "Nenek bilang suami dan orang tuanya datang menjemput. Itu saja yang dikatakan berulang-ulang," kenang Enung. 

Menjelang kematian Nenek Maemunah, sejumlah anak, cucu, dan cicitnya datang menjenguk. Meski tubuh Nenek Maemunah sudah lemah, rupanya ingatannya masih sangat prima. Dia memanggil nama cucu dan cicitnya tanpa salah satu pun. Selain itu, hanya sebagian rambutnya yang mulai beruban. "Pada 2002, saat saya nikah, rambut nenek masih hitam, tidak ada uban," katanya. 

Ada satu hal yang dipesan sang nenek kepada Enung. Yakni, Enung jangan sampai lepas dari air wudu. Hal itu mengindikasikan Nenek Maemunah ingin anak dan cucunya senantiasa rajin beribadah.

1 comments: